Ada kelompok yang menjalankan usaha penyediaan telur. Ada pula yang menjual parfum dan deodoran.
Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana kreativitas anak muda bisa membuka peluang usaha sekaligus menggerakkan ekonomi lingkungan.
Tak hanya berbisnis, mereka juga mengadakan pemutaran film dengan konsep layar tancap atau misbar (gerimis bubar).
Kegiatan ini menjadi ruang berkumpul warga sekaligus kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk.
Bagi Eri, kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan Kampung Pancasila.
Nilai persatuan tidak cukup disampaikan lewat slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan saling membantu, menjaga kerukunan, dan peduli terhadap lingkungan.
“Lewat kegiatan anak-anak muda ini, kita ingin Kampung Pancasila benar-benar hidup, nilai-nilainya diterapkan sehari-hari. Anak-anak muda bisa bergerak bersama, saling membantu, menjaga kerukunan, dan peduli dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, semangat Pancasila itu betul-betul dirasakan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menyebut aktivitas pemuda di balai RW mulai menunjukkan dampak terhadap kehidupan kampung.
Selain menjadi ruang kreativitas, kegiatan tersebut ikut membuka peluang bagi UMKM setempat untuk berkembang.
“Alhamdulillah, di setiap balai RW ada berbagai kegiatan yang dilakukan anak-anak muda Surabaya, termasuk generasi Z. Ada yang mengembangkan usaha penyediaan telur, ada juga yang menggerakkan kegiatan sehingga UMKM masyarakat ikut bergerak. Saya bangga karena mereka turut membantu menggerakkan Kampung Pancasila,” ujarnya.
Semangat Sumpah Pemuda juga dikaitkan dengan upaya menjaga keamanan dan mencegah penyalahgunaan narkoba.



