Informasi mengenai sumber dan karakteristik asap juga penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Danar menilai penanganan karhutla gambut membutuhkan rekayasa fisik yang mampu menjangkau sumber api hingga ke bawah permukaan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pembasahan kembali lahan gambut melalui sekat kanal, sumur bor maupun pompa air.
Langkah tersebut menjadi penting karena memadamkan api di permukaan belum tentu menghentikan pembakaran yang terjadi di lapisan gambut.
Di sisi lain, perlindungan masyarakat di wilayah yang terdampak asap juga perlu diperkuat.
Fasilitas ruang publik seperti sekolah dan rumah sakit dapat dilengkapi ruang aman dengan udara bersih.
Sistem ventilasi gedung juga dinilai perlu terintegrasi dengan filter udara.
Namun, Danar menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban.
Persoalan karhutla perlu ditangani dari akar masalahnya, yakni bagaimana lahan dikelola dan dilindungi dalam jangka panjang.
“Teknologi yang paling menjanjikan adalah restorasi dan pembasahan gambut permanen, dipadukan dengan pemantauan satelit dan kecerdasan buatan untuk deteksi dini. Namun, teknologi hanya akan efektif bila ditopang penegakan hukum, tata kelola lahan yang jelas, dan kerja sama regional antarnegara,” pungkasnya. (*)



