“Partikelnya sangat kecil, sehingga massanya ringan dan pengendapannya ke bawah sangat lambat. Api gambut juga bisa menjalar di bawah permukaan selama berminggu-minggu, sehingga sumber asapnya terus ada dan memproduksi debu secara berkelanjutan,” jelasnya.
Selain kondisi kebakaran, bentuk permukaan wilayah turut memengaruhi persebaran asap.
Pegunungan dapat menghambat aliran udara, sementara wilayah lembah dan cekungan berpotensi menjadi titik akumulasi asap.
Kondisi tersebut bahkan dapat semakin terasa pada malam hari ketika udara dingin bergerak turun dan mendorong penumpukan asap di wilayah tertentu.
Risiko karhutla juga semakin besar ketika terjadi fenomena iklim seperti El Niño.
Kondisi ini dapat memperpanjang musim kemarau sekaligus membuat lahan gambut semakin kering sehingga lebih mudah terbakar.
Untuk memprediksi arah pergerakan asap, sejumlah model komputer telah digunakan, mulai dari HYSPLIT, WRF-Chem, CAMS hingga AERMOD.
Namun, menurut Danar, pemodelan akan lebih akurat jika tidak hanya mengandalkan satu sumber data.
“Akurasi terbaik biasanya diperoleh dengan menggabungkan model cuaca resolusi tinggi, data titik panas satelit, dan pengamatan lapangan. Namun, alat pemantau kualitas udara saat ini umumnya baru menampilkan tingkat pencemaran tanpa membedakan komposisi kimia spesifik dari biomassa kebakaran secara real-time,” imbuhnya.
Artinya, persoalan kabut asap tidak cukup hanya dilihat dari seberapa pekat polusi yang terukur.



