Menurut Achmad, penyesuaian kapasitas kendaraan merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan.
Namun, pengembangan jaringan transportasi juga perlu memperhitungkan kawasan yang membutuhkan akses lebih baik, terutama permukiman yang belum terhubung secara optimal dengan jalur utama.
“Perencanaan rute harus benar-benar memperhatikan kebutuhan warga, termasuk di kawasan permukiman yang belum terjangkau layanan secara optimal. Dengan begitu, keberadaan feeder bisa membantu masyarakat menjangkau transportasi umum dengan lebih mudah,” katanya.
Persoalan konektivitas menjadi semakin penting karena Pemkot Surabaya merencanakan pembukaan 11 rute angkutan utama dan 30 rute feeder baru.
Angkutan utama melayani koridor perjalanan besar, sedangkan feeder menghubungkan kawasan permukiman dengan jalur utama.
Jika direncanakan secara terintegrasi, jaringan tersebut dapat memperluas pilihan perjalanan masyarakat.
Warga tidak hanya membutuhkan kendaraan yang melintas di dekat tempat tinggal, tetapi juga kemudahan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, pusat pelayanan, maupun kawasan kegiatan ekonomi.
Achmad juga menyoroti pentingnya integrasi antarmoda.
Menurutnya, kemudahan berpindah dari feeder ke bus atau layanan transportasi lain perlu menjadi bagian dari perencanaan agar perjalanan masyarakat lebih praktis.





