Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena bertepatan dengan kemarau kering.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan 75,7 persen zona musim di Jawa Timur mengalami curah hujan di bawah normal.
Minimnya hujan dinilai memperburuk kualitas udara karena debu jalanan, emisi kendaraan, asap industri, dan pembakaran terbuka berpotensi meningkatkan pencemaran.
“Jangan sampai masyarakat terus diminta berobat ketika sakit, sementara sumber pencemar udara tidak ditangani secara serius,” ujarnya.



