“Ada partai-partai tertentu yang kuatnya ada di Jawa Timur misalnya. Ada partai tertentu lagi yang kuatnya ada di kota, tapi kalau di kabupaten, di tingkat daerah itu dia enggak pernah ada dapat keterwakilan,” ujarnya.
Menurut Mardiono, kondisi tersebut membuat kekuatan PPP tidak selalu tercermin secara utuh apabila hanya dilihat dari satu wilayah atau indikator survei tertentu.
Ia mencontohkan kondisi PPP di Surabaya.
Menurutnya, pada Pemilu 2019, PPP memiliki perolehan suara yang relatif lebih tinggi secara keseluruhan, tetapi jumlah kursi yang diperoleh justru lebih rendah.
“PPP itu merata, hanya pembagiannya yang waktu itu mungkin tidak pas caleg-calegnya,” katanya.
Mardiono juga mengajak kader PPP melihat perjalanan perolehan suara partai secara lebih panjang.
Ia menyebut PPP pernah memperoleh 39 kursi DPR RI pada Pemilu 2014 dengan perolehan suara nasional sekitar 8-9 juta suara.



