Kemampuan mengetahui kondisi baterai menjadi bagian penting dalam pengelolaan energi.
BMSense membawa konsep tersebut dengan sistem monitoring digital yang dapat memberikan informasi kondisi baterai secara langsung.
Dari sisi teknologi, BMSense memiliki konfigurasi subkulit 3s dengan tegangan nominal 11,1 volt dan tegangan penuh 12,6 volt.
Sementara sistem pemantauannya memungkinkan tegangan masing-masing sel, arus, temperatur, hingga kondisi baterai dipantau secara real time.
“Kemampuan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi baterai, sehingga pemantauan sistem penyimpanan energi dapat dilakukan secara lebih terukur,” papar Grasianto.
Kemampuan monitoring ini menjadi salah satu bagian yang menarik dari pengembangan BMSense, terutama ketika kebutuhan terhadap sistem penyimpanan energi semakin luas di tengah tren elektrifikasi.
Meski perkembangan kendaraan listrik menjadi salah satu gambaran besarnya kebutuhan teknologi baterai, BMSense tidak secara khusus dikembangkan hanya untuk kendaraan listrik.
ITS menyebut teknologi tersebut dapat digunakan dalam berbagai aplikasi energi terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem cadangan energi maupun sistem energi off-grid.
Grasianto mengatakan pengembangan BMSense juga mempertimbangkan peluang pemanfaatan teknologi penyimpanan energi di Indonesia.













