Perselisihan itu kemudian melebar ke persoalan posisi Achmad di struktur DPC PDI Perjuangan Surabaya.
Sebelum aksi di Jalan Setail, Achmad memang telah dibebastugaskan dari posisi Wakil Sekretaris Bidang Program DPC PDI Perjuangan Surabaya.
Pemberhentian tersebut tercantum dalam Surat Keputusan DPP PDI Perjuangan Nomor 1742/KPTS/DPP/IV/2025 tertanggal 30 April 2025.
Beberapa bulan setelah keputusan tersebut, ketegangan memuncak pada 18 Juli 2025.
Achmad datang ke Kantor DPC PDIP Surabaya dengan membawa tiga botol spirtus dan sebilah keris.
Ia kemudian menyiram tubuhnya dengan spirtus dan mengancam hendak membakar diri.
Satgas PDIP Surabaya akhirnya mengamankan Achmad sebelum situasi berkembang lebih jauh.
Nama Armuji menjadi salah satu yang paling keras disebut Achmad dalam aksi tersebut.
“De’e wedi dunyoe ilang. Kene nggae nyowo, enggak ngara wani de’e. Ojok nunggangi partai gae kepentingan dewe,” ujar Achmad di lokasi.
Setelah kejadian, Achmad kemudian menyampaikan versinya mengenai konflik tersebut kepada media.
Ia mengaku kecewa terhadap proses politik dan tata kelola organisasi di internal DPC PDI Perjuangan Surabaya.
Achmad juga menuding terdapat komunikasi internal yang menurutnya berjalan tanpa sepengetahuannya.
Ia mengklaim memiliki bukti berupa percakapan WhatsApp pengurus yang menunjukkan adanya pembicaraan mengenai pembebastugasannya.













