“Kita terus lakukan, setiap hari kita berjalan. Diminta atau tidak diminta, kita jalan untuk melakukan mitigasi,” sebutnya.
Irvan juga meminta warga tidak mudah percaya pada informasi kebencanaan yang belum jelas sumbernya.
Informasi terkait gempa sebaiknya diperiksa melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau BPBD.
Di sisi lain, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan Rozikan menjelaskan sesar di Surabaya bukan patahan yang baru terbentuk.
Pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dipublikasikan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada 2017 dan 2024 telah mencatat struktur tersebut.
Patahan purba itu kembali teridentifikasi sebagai sesar aktif.
“Jadi bukan yang terbentuk baru. Kemudian di Surabaya ini ada beberapa ya, ada sesar Kendeng yaitu jalur patahan yang melintasi Kota Surabaya, ada segmen Surabaya dan Waru,” kata Rozikan saat ditemui di Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo.
Segmen Surabaya dan Waru merupakan bagian dari zona lipatan dan patahan Kendeng atau thrust zone yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Berdasarkan peta PuSGen 2024, Segmen Surabaya memiliki potensi magnitudo maksimum 6,7. Sementara Segmen Waru mencapai 6,8.









