“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru,” ungkapnya, Jumat 11 September 2026.
Menurut Amien, kedua patahan tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan.
Temuan tersebut juga sejalan dengan peta patahan Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) pada 2024.
Namun, Amien memberikan catatan penting terkait status patahan tersebut.
Keberadaan struktur patahan tidak otomatis berarti patahan itu dapat disebut aktif.
“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” paparnya.
Ia menegaskan, diperlukan kajian ilmiah untuk menentukan apakah sebuah patahan masih aktif atau tidak.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan informasi yang belum terverifikasi sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa akan segera terjadi.
“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” terangnya.







