“Ini momentum yang sangat baik agar seluruh perguruan ju-jitsu di Surabaya bisa bersatu. Porprov 2027 dan PON 2028 adalah gawe besar, dan Jawa Timur harus mampu menjadi juara umum,” tegas Yona Bagus Widyatmoko di lokasi kejuaraan.
Yona menilai persaingan olahraga bela diri ke depan tidak akan semakin mudah. Karena itu, pembinaan atlet tidak boleh berjalan sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan masing-masing perguruan.
Jawa Timur, kata dia, memiliki modal besar berupa banyaknya dojo dan perguruan yang melahirkan atlet potensial. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dirajut menjadi satu kekuatan untuk menghadapi Porprov 2027 dan PON 2028.
Menurutnya, ego antarperguruan harus ditekan ketika kepentingannya sudah menyangkut prestasi Jawa Timur.
“Sinergi yang kokoh di tingkat kota diyakini akan menjadi pilar utama penopang kekuatan kontingen Jawa Timur di panggung kompetisi level nasional,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong komunikasi dan kolaborasi antarperguruan terus diperkuat. Atlet terbaik dari berbagai perguruan harus mendapatkan ruang pembinaan dan kompetisi yang berkesinambungan.
Bagi Yona, Kejurprov Piala Gubernur Jawa Timur 2026 juga menjadi bagian penting dari proses panjang mencetak atlet berprestasi. Kejuaraan tidak boleh berhenti hanya pada perebutan medali, tetapi harus menjadi sarana memetakan kekuatan dan menemukan talenta yang bisa diproyeksikan ke level lebih tinggi.




