“Saya juga maget ada kejadian seperti itu, karena selama ini tidak ada pengaduan dari warga ke saya terkait mereka, warga tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka, malah kadang warga juga ikut pengajian di masjidnya, cuma yang membedakan dia dengan warga yang lain, mereka agak tertutup itu aja,” jelasnya lagi.
“Saya juga dijadikan saksi oleh pihak kepolisian waktu penggeledahan, jadi waktu penggeledahan anak dan istri pak MF ini ya dititipkan di sini (rumah ketua RT, red), saya ikut pak polisi ke rumah MH sebagai saksi proses penggeledahan, banyak yang ditemukan mulai dari buku-buku sampai kaset,” imbuhnya.
Masih Ocje, “Dulu mereka itu satu jamaah di Babu Suro, dan biasanya dulu itu memanggil ustad Ba Asyir untuk ceramah, tapi setelah Ba asyir di tahan karena terlibat teroris, akhirnya yang di Babu Suro juga pecah, yang pak Ali kan mendirikan masjid sendiri,dan Pak Hardi juga mendirikan sendiri.”
Di ketahui, Rabu s.d Kamis 16 s.d 17 Mei 2018 pkl 21.30 s/d 01.30 bertempat di Perumahan Umum Sumber Taman Indah Kel. Sumbertaman Kec. Wonoasih Kota Probolinggo telah dilaksanakan penggrebekan terhadap 3 orang terduga teroris kelompok jaringan Dita Oepriarto kasus pengeboman Gereja di Surabaya oleh Densus 88/AT yang dipimpin AKBP Alfian Nur Rizal Kapolresta Probolinggo, dan Letkol Kav Depri Rio Saransi Dandim 0820/Probolinggo.
Pukul 21.30 WIB, petugas Densus 88/AT tiba di rumah kontrakan Moh. Fatwa, Perumahan Sumbertaman Jln. Taman Tirta 4 Blok BB Kel. Sumbertaman RT 04 RW 08 Kec. Sumbertaman Kota Probolinggo. Selanjutnya melakukan penggrebekan dan penangkapan terhadap Moh Fatwa. Pria asal Tasikmalaya ini berhasil diamankan.












