Rektor ITS ini juga menjelaskan bahwa ITS memiliki seratus ribu lebih alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, dan yang aktif dalam kegiatan alumni hanya sekitar seribu orang. Sedang kedua terduga pelaku tersebut merupakan alumni yang tidak aktif di ITS.
“Selama ini kegiatan yang terkait alumni, kita bekerja sama dengan IKA (Ikatan Alumni, red) ITS. IKA lah yang menentukan siapa alumni yang akan menjadi pembicara jika diundang dalam acara ITS dan kedua terduga pelaku ini tidak pernah menjadi pembicara,” ujar pria yang gemar bermain piano ini.
Sehingga pada kesimpulannya atas tindakan kedua terduga pelaku teror tersebut, Joni menegaskan bahwa ITS tidak memiliki kaitan dengan apa yang mereka lakukan setelah lulus atau tidak terlibat lagi dengan ITS.
Klarifikasi Pemecatan Dosen
Dalam konferensi pers ini, Joni juga melakukan klarifikasi terkait pernyataan Menristekdikti Mohamad Nasir kepada media mengenai adanya dosen dan dekan di ITS yang dipecat karena diduga terlibat dengan gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang telah dilarang oleh pemerintah.
Dalam hal ini, Joni menjelaskan bahwa sebenarnya pihak ITS saat ini masih melakukan proses penyelidikan untuk membuktikan keterlibatan para dosen tersebut. Namun, pihaknya membantah bila telah memecat ketiga dosen yang diberitakan tersebut sebagai pegawai negeri sipil (PNS).



