“Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan nyantol di mangrove. Nah, yang non-valuable itu yang ingin kita kumpulkan,” katanya.
Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik tersebut akan diproses menjadi minyak bakar yang selanjutnya dapat dimanfaatkan kembali oleh nelayan untuk mengoperasikan perahu bermotor.
Agus menjelaskan, konsep tersebut juga diharapkan mampu melibatkan masyarakat pesisir dalam menjaga kebersihan kawasan mangrove.
“Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mencari sampah plastik di mangrove, nanti diberikan kepada kami untuk diproses. Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan lagi untuk bahan bakar motor tempel mereka,” tuturnya.
Selain mengurangi pencemaran lingkungan, skema tersebut dinilai dapat menciptakan siklus ekonomi sirkular, di mana sampah yang sebelumnya tidak bernilai diubah menjadi energi yang kembali dimanfaatkan masyarakat.












