Pancasila lanjutnya tidak boleh sekadar menjadi hafalan teks formal, melainkan jiwa penuntun untuk menghapus sistem penindasan manusia atas manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme).
“Bagi Bung Karno, Pancasila adalah philosophische grondslag (landasan filosofis) dan Weltanschauung (pandangan hidup) yang digali dari nilai-nilai asli bumi Indonesia. Dan
Marhaenisme adalah Pisau Analisa (jiwa penuntun/Ideologi) yang memastikan Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan teks formal atau pajangan di dinding kelas,” ucapnya.
Dijelaskan Ony, Marhaenisme mengingatkan kita semua bahwa tujuan akhir dari ber-Pancasila dan bernegara adalah tidak adanya sistem penindasan manusia atas manusia dan terciptanya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sehingga diera abad ke 21 ini, Marhaenisme kata Ony justru sangat kontekstual karena wajah kemelaratan telah berubah bentuk.
“Jika dahulu kolonialisme bersifat fisik, hari ini imperialism menjelma menjadi Neoliberalisme dan Neokolonialisme yang menciptakan ketergantungan ekonomi pada investasi asing yang tidak berpihak pada lokal,” pungkas anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapil) Tuban – Bojonegoro. (caa)












