Secara esensial, Marhaenisme kata anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim adalah ideologi yang berfokus pada pembelaan terhadap kaum “Marhaen”—yaitu rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri namun hidupnya tetap melarat akibat sistem kapitalisme yang menindas.
Bung Karno jelas Ony merumuskan Marhaenisme ke dalam tiga pilar utama (Trikala) yakni Sosio-Nasionalisme, Nasionalisme yang berwatak sosial, menempatkan kemanusiaan dan keadilan di atas segalanya.
Sosio-Demokrasi, Demokrasi yang tidak hanya menuntut persamaan hak politik (pemilu), tetapi juga persamaan di bidang ekonomi, agar rakyat tidak kelaparan. serta Ketuhanan yang Maha Esa yakni aspek spiritual yang membentengi perjuangan agar tetap berada pada koridor kemanusiaan yang beradab.
”Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka bukanlah akhir perjuangan, melainkan sebuah ‘jembatan emas’ untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, dan bebas dari penindasan,” ucap Ony.
Ony juga menegaskan bahwa Pancasila yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945 merupakan hasil proses “menggali” bumi Indonesia, dengan Marhaenisme sebagai pisau analisisnya.












