Cakrawala JatimCakrawala NewsCakrawala PendidikanCakrawala SurabayaHeadline

Belajar dari Kasus Penyekapan Bandung, Riset Anak Muda UNAIR Bedah Mengapa Pria Nekat Lakukan ‘Femisida

×

Belajar dari Kasus Penyekapan Bandung, Riset Anak Muda UNAIR Bedah Mengapa Pria Nekat Lakukan ‘Femisida

Sebarkan artikel ini
5 Mahasiswa UNAIR yang melakukan riset Vonis di Balik Layar: Eskalasi Kekerasan Gender Relasi Digital Menuju Femisida". (Foto: Humas UNAIR)
5 Mahasiswa UNAIR yang melakukan riset Vonis di Balik Layar: Eskalasi Kekerasan Gender Relasi Digital Menuju Femisida". (Foto: Humas UNAIR)
Surabaya, CakrawalaNews.co | Kasus dugaan penganiayaan danPenyekapan sadis yang dilakukan oleh Taufik Hidayat terhadap seorang perempuan di Bandung, Jawa Barat, belakangan ini gegerkan publik. 
 
Tragedi kelam ini menjadi alarm keras bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Polanya selalu berulang: dimulai dari kontrol posesif, intimidasi di media sosial, penyekapan, hingga berujung pada kekerasan fisik yang fatal.
 
Melihat fenomena mengerikan ini yang kian marak di Indonesia, lima mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) bergerak cepat melakukan langkah konkret. 
 
Mereka membedah isi kepala dan kondisi psikologis para pelaku pembunuhan berbasis gender atau yang dikenal dengan istilah femisida.
 
Lewat riset mendalam berjudul “Vonis di Balik Layar: Eskalasi Kekerasan Gender Relasi Digital Menuju Femisida”, tim lintas disiplin ilmu ini sukses melenggang ke ajang bergengsi dan meraih pendanaan dari Kemdiktisaintek.
 
Dipimpin oleh Afif Pramudya Alriandi bersama timnya (Muhammad Adha, Annisa Alfitriah, Vennisya Nadia, dan Desi Rahmawati), riset ini mengambil sudut pandang yang tidak biasa. 
 
Ketika mayoritas penelitian berfokus pada trauma korban, tim UNAIR justru memilih masuk ke area abu-abu: membedah mekanisme pengambilan keputusan dan kondisi psikologis dari sisi pelaku.
 
“Kami memilih frasa ‘Vonis di Balik Layar’. Kata vonis identik dengan hakim di pengadilan, namun dalam realitasnya, pelaku kekerasan secara sepihak telah menjatuhkan ‘vonis mati’ kepada korban. Sementara ‘di balik layar’ merujuk pada fakta bahwa eskalasi kekerasan fatal ini sering kali berakar dari interaksi beracun di dunia maya atau relasi digital,” jelas Afif.
 
Sama persis dengan pola kasus penyekapan di Bandung yang berawal dari kontrol berlebihan, tim UNAIR memetakan risiko menggunakan konsep continuum of violence.
 
 Mereka mendeteksi bagaimana sifat dominasi dan kontrol digital di media sosial (seperti memeriksa ponsel pasangan, melarang berinteraksi, dan mengancam di chat) bisa bertransformasi secara bertahap menjadi kekerasan fisik yang mematikan di dunia nyata (offline).
 
Dari sudut pandang hukum, tantangan riset ini tergolong berat. Anggota tim dari Fakultas Hukum, Annisa Alfitriah, mengungkapkan bahwa Indonesia masih sangat tertinggal dalam memayungi hukum kasus-kasus bermotif gender ini dibandingkan dengan luar negeri.
 
“Di luar negeri, sudah banyak negara yang merumuskan indikator femisida menjadi kebijakan hukum pidana khusus. Itulah yang kami kejar melalui riset ini,” terang Annisa.
 
Berkaca pada rentetan kasus yang ada, Annisa dan timnya mendesak agar hasil riset mereka kelak dapat digunakan oleh penyidik forensik dan psikolog untuk membaca sinyal bahaya sebelum pembunuhan terjadi. 
 
Lebih jauh lagi, mereka mendorong adanya reformasi hukum berupa pemberatan sanksi pidana bagi pelaku pembunuhan bermotif gender di Indonesia agar memberikan efek jera yang nyata dan menghentikan jatuhnya korban-korban baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *