Surabaya, CakrawalaNews.co | Di tengah ancaman krisis pangan global dan cuaca ekstrem yang membayangi sektor pertanian Indonesia saat ini, kabar membanggakan datang dari panggung internasional.
Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) sukses mengharumkan nama bangsa dengan menyabet Gold Award dalam ajang bergengsi The 3rd Multidisciplinary Regional Conference in Science and Technology 2026 (MRCST 26) yang digelar di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Sabtu (20/6/2026).
Lewat kompetisi sains dan teknologi global ini, delegasi Indonesia berhasil membuktikan bahwa anak muda tanah air mampu menciptakan solusi digital untuk tantangan dunia nyata.
Tim yang menamakan diri mereka Cultiva ini beranggotakan Anindya Wita Wisesa, Muhammad Yusran Yuris, dan Gaida Salsabila Arden dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR. Mereka merancang sebuah sistem *smart agriculture berbasis kecerdasan buatan (AI) yang secara khusus didedikasikan untuk menyelamatkan para petani dari hantu gagal panen.
Inovasi mutakhir yang diberi tajuk Cultiva: Multimodal AI-Based Smart Agriculture System Integrating IoT with Hybrid Architecture for Food Security ini bukan sekadar aplikasi biasa.
Alat ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dengan kecerdasan buatan canggih.
“Inovasi ini lahir dari keprihatinan kami terhadap tingginya angka gagal panen di negara tropis, termasuk Indonesia, serta minimnya akses informasi petani terhadap kondisi lahan mereka sendiri,” ungkap Anindya Wita Wisesa, Ketua Tim Cultiva.
Melalui sistem pintar ini, petani tidak lagi harus menebak-nebak kondisi alam. Cultiva bekerja dengan memberikan solusi total dalam siklus pertanian, mulai dari rekomendasi jenis tanaman yang paling cocok dengan tanah,
penjadwalan irigasi otomatis untuk menghemat air hingga formulasi dosis pupuk yang presisi, dan ditutup dengan prediksi waktu panen yang akurat melalui pemantauan lahan secara real-time.
Secara teknis, teknologi ini menggabungkan model machine learning untuk mengolah data lahan dan Large Language Model (LLM) berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG).
Artinya, AI ini mampu memproses berbagai jenis data lapangan secara cerdas untuk mendukung pengambilan keputusan petani di era modern, sekaligus mendukung agenda dunia dalam mewujudkan swasembada pangan tanpa kelaparan (SDG 2).
Perjalanan meraih medali emas ini tidak dilalui dengan instan. Tim Cultiva harus jatuh bangun melakukan data scraping, memilah ribuan artikel pertanian tropis, hingga merakit komponen teknologi secara mandiri.
Bahkan ada cerita unik di balik kegigihan mereka saat berlomba di Malaysia. Demi menguji prototype mesinnya agar dapat bekerja maksimal di ruang pameran, mereka sampai harus mencari sampel tanah di pinggiran jalan wilayah Malaysia.
Kerja keras tersebut terbayar lunas dengan pengakuan tertinggi dari para dewan juri internasional. Ke depan, tim UNAIR berharap teknologi Cultiva tidak berhenti di atas kertas atau pameran saja, melainkan bisa segera diproduksi massal dan diadopsi oleh para petani di seluruh Indonesia dan negara tropis lainnya.
“Do it scared! Hadapi ketakutanmu dan coba saja selama peluang itu masih terbuka di depan mata,” pungkas Anin memotivasi generasi muda Indonesia.












