Kemnaker juga mulai menerapkan pendekatan user journey approach dalam pengelolaan BLK. Pendekatan tersebut dirancang agar pencari kerja mendapatkan layanan yang lebih tepat sasaran, mulai dari proses pendaftaran, pelatihan, hingga penempatan kerja.
Menurut Yassierli, pola pelatihan di BLK juga mulai diubah agar lebih dekat dengan kebutuhan industri. Selain pembelajaran di kelas, peserta akan diperkuat melalui metode Project-Based Learning (PBL) dan program magang langsung di dunia usaha dan dunia industri.
“Kemnaker mendesain ulang alur layanan BLK agar lebih berfokus pada kebutuhan pencari kerja. Pelatihan tidak lagi hanya berorientasi pada materi di kelas, tetapi juga mengedepankan metode Project-Based Learning dan program magang langsung di industri,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem vokasi, BLK juga akan memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), perguruan tinggi, serta komunitas. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar lulusan pelatihan memiliki kompetensi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.












