Lebih jauh, Anis menggambarkan aktivitas di Galeri Merah Putih yang dikelolanya sebagai contoh konkret dinamika seni lukis di Surabaya. Meski berukuran kecil, galeri tersebut memiliki frekuensi pameran yang tinggi dan menjadi ruang penting bagi para pelukis untuk menampilkan karya mereka secara rutin.
“Nah, kami di sini konsen pada seni lukis. Di sini setiap tahun ada 39 sampai 40 agenda pameran lukisan. Jadi padat sekali mungkin. Ini adalah galeri terkecil di Indonesia, tapi terpadat di Indonesia,” ungkapnya.
Anis juga memandang bahwa dukungan Pemkot Surabaya terhadap pelaku seni selama ini sudah terasa. Namun, ia menilai dukungan moral dan kebijakan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas seni.
“Sangat mendukung, dan saya berterima kasih pada keputusan Pak Wali yang kemarin. Kesenian tetap bisa di Balai Pemuda, saya dukung dan kita apresiasi,” katanya.
Meski demikian, Anis mengakui sempat muncul kekhawatiran ketika ada isu penggusuran, yang menurutnya menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku seni. Karena itu, ia berharap ke depan dukungan pemkot semakin konsisten, terutama dalam bentuk perhatian terhadap keberlangsungan kesenian. “Saya berharap pemkot mendukung bukan berupa dana, tapi dukungan moral,” harapnya.
Sementara itu, pelaku seni tari Surabaya, Sri Mulyani, melihat transformasi kelembagaan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) sebagai langkah positif untuk memperluas cakupan pengembangan budaya. Ia menilai konsep kebudayaan memiliki spektrum yang lebih luas dibandingkan kesenian semata.












