Surabaya, CakrawalaNews.co – Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardika, menilai optimalisasi sistem pembayaran digital QRIS dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan efisiensi operasional Bank Jatim.
Menurut Pranaya, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Bank Jatim memang menunjukkan tren perbaikan. Namun, ia menilai ruang untuk menekan rasio tersebut masih terbuka.
“BOPO memang membaik, tapi masih bisa ditekan lagi,” ujarnya.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim itu menjelaskan bahwa peningkatan porsi dana murah atau current account saving account (CASA) menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi bank daerah tersebut.
Salah satu cara yang dinilai realistis adalah dengan memperluas penggunaan QRIS sebagai instrumen transaksi digital di masyarakat.
“Salah satu cara yang paling masuk akal adalah mencari dana murah, dan itu bisa dari optimalisasi QRIS,” tegasnya, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, semakin banyak pengguna QRIS, semakin besar potensi masuknya dana murah ke dalam sistem perbankan. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu menurunkan biaya operasional.
“Kalau pengguna naik, dana murahnya masuk, otomatis BOPO turun,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong Bank Jatim membentuk satuan tugas khusus guna mempercepat ekspansi pengguna QRIS, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pranaya menilai transaksi harian pelaku UMKM memiliki potensi besar bagi perbankan, meski nominalnya relatif kecil.
“Tiap hari mungkin cuma ratusan ribu atau satu juta. Tapi kalau jumlahnya banyak, dampaknya signifikan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, melaporkan kinerja perseroan yang menunjukkan tren positif. Laba bersih hingga kuartal III 2025 meningkat sekitar 23,5–23,66 persen secara tahunan (YoY) menjadi sekitar Rp1,14–1,15 triliun.
“Kenaikan ini ditopang pendapatan bunga dan ekspansi kredit produktif,” jelasnya.
Winardi menegaskan perseroan saat ini fokus pada dua hal utama, yakni peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional.
“Kami dorong revenue, sekaligus kami perbaiki efisiensi. Dua-duanya berjalan,” tegasnya.
Selain itu, pengendalian non-performing loan (NPL) juga tetap menjadi perhatian manajemen.
“NPL akan terus kami tekan,” ujarnya.
Secara fundamental, Bank Jatim mencatat penguatan di berbagai indikator, dengan total aset mencapai Rp107,49 triliun, kredit Rp67,74 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) Rp85,19 triliun. Rasio CASA tercatat meningkat menjadi 58,96 persen, sementara NPL berada di level 3,96 persen.













