Di sisi lain, perwakilan Aliansi Pemuda Peduli Bangkalan, Ajib, menyampaikan kegelisahan warga yang merasa sudah memberikan pengorbanan besar demi proyek ini. Ia mengingatkan bahwa banyak warga yang bersedia melepas lahan mereka melalui proses penaksiran harga resmi dengan harapan adanya perubahan ekonomi di wilayah Jembatan Suramadu.
“Tujuan kami ke sini untuk memecah simpang siur informasi di tingkat bawah. Masyarakat sudah kooperatif menyerahkan tanah mereka meskipun harganya mungkin tidak seberapa. Kami tidak ingin proyek ini jadi impas atau buntu hanya karena masalah administrasi pelimpahan dari pusat ke kementerian atau provinsi,” tegas Ajib.
Meski diliputi rasa kecewa, Ajib menekankan bahwa aliansi pemuda tetap berkomitmen mendukung pembangunan di Madura. Ia mengakui bahwa tantangan internal seperti stabilitas keamanan dan keramahan terhadap investor menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama oleh masyarakat lokal.












