Padahal, rumah radio Bung Tomo bukan sekadar bangunan. Dari tempat itulah suara perlawanan dikumandangkan, membakar semangat arek-arek Surabaya melawan Sekutu dan NICA. Radio menjadi medium utama Bung Tomo dalam menyatukan rakyat, menjadikan kata-kata sebagai senjata revolusi.
Perjalanan Bung Tomo sendiri dimulai jauh sebelum ia dikenal sebagai sang orator pertempuran 10 November 1945. Pada usia 17 tahun, Sutomo begitu nama kecilnya telah terjun ke dunia politik sebagai Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok Dukuh, Surabaya. Meskipun sebelumnya kiprah juang Sutomo dimulai ketika bergabung gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Keterlibatan politik sejak dini itu membentuk karakter Bung Tomo sebagai aktivis yang berpikir, berorganisasi, dan berani mengambil risiko.












