Berita UtamaCakrawala EkonomiCakrawala Nasional

Kadin Indonesia Dorong Transformasi Industri dan Modernisasi Pertanian Guna Perkuat Struktur PDB

×

Kadin Indonesia Dorong Transformasi Industri dan Modernisasi Pertanian Guna Perkuat Struktur PDB

Sebarkan artikel ini
Kadin Bippenas, menggelar rapat di Jakarta. 
Kadin Bippenas, menggelar rapat di Jakarta. 

Cakrawalanews.co-Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten bertahan di angka lima persen dipandang sebagai modal krusial untuk melompat menuju target delapan persen pada tahun 2029.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional, Bayu Priawan Djokosoetono, menegaskan bahwa akselerasi transformasi produktivitas adalah mesin utama yang harus segera dinyalakan.

Indonesia perlu mempercepat langkah ini agar memiliki daya saing yang setara dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Vietnam.

Hingga saat ini, sektor industri pengolahan masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar 19 persen terhadap PDB. Pada kuartal keempat tahun 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,40 persen secara tahunan, didukung oleh indeks manajer pembelian atau PMI Manufaktur yang berada di level ekspansi pada awal 2026.

Antusiasme dunia usaha untuk memperkuat kapasitas produksi juga terlihat jelas dari kenaikan investasi domestik yang tumbuh signifikan sebesar 26,6 persen sepanjang tahun lalu, melampaui kontribusi investasi asing.

Meski demikian, tantangan besar masih membayangi sektor pertanian dan konstruksi. Sektor pertanian yang menyerap 28 persen tenaga kerja nasional baru menyumbang sekitar 13 persen terhadap PDB, mengindikasikan adanya celah produktivitas yang harus ditutup melalui modernisasi teknologi.

Di sisi lain, sektor konstruksi mengalami perlambatan pertumbuhan yang seiring dengan moderasi belanja pemerintah. Kadin berharap program-program strategis seperti bantuan perumahan dan renovasi sekolah dapat menjadi stimulus baru bagi sektor real estate dan konstruksi ke depannya.

Dari sisi konsumsi, daya beli rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi melebihi 50 persen.

Namun, pertumbuhan ekspor yang cenderung melambat memicu kekhawatiran akan terjadinya penumpukan stok barang akibat produksi industri yang lebih tinggi dibandingkan daya serap pasar domestik. Oleh karena itu, pemerintah diminta waspada terhadap produk impor ilegal atau dumping yang dapat merusak ekosistem industri dalam negeri.

Sebagai catatan penutup, Bayu Priawan menyoroti rendahnya kontribusi Total Factor Productivity (TFP) Indonesia yang saat ini masih tertinggal jauh dari China dan Vietnam.

Masa depan ekonomi nasional akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memastikan setiap investasi yang masuk membawa teknologi tepat guna serta mendorong alih teknologi kepada pelaku usaha lokal. Tanpa adanya lonjakan produktivitas yang nyata, ambisi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi delapan persen akan tetap menjadi tantangan yang sulit ditaklukkan.( din/wa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *