Cakrawalanews.co- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target ambisius untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara (minerba) sebesar Rp134 triliun pada tahun 2026.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan target tahun 2025 yang dipatok sebesar Rp124,7 triliun, meskipun pemerintah berencana melakukan pemangkasan produksi pada komoditas batubara dan nikel melalui evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa optimisme ini didorong oleh tren kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan seperti timah, nikel, dan emas.
Saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan pada Senin (19/1), ia menyatakan bahwa fluktuasi harga global yang cenderung menguat diharapkan mampu mengompensasi pengurangan volume produksi.
Selain mengandalkan harga pasar, Tri menegaskan bahwa pencapaian target tersebut akan didukung oleh penguatan pengawasan serta perbaikan tata kelola di sektor minerba guna meminimalisir kebocoran pendapatan negara.
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian ESDM juga telah menyiapkan berbagai skenario cadangan jika harga komoditas mengalami penurunan atau bergerak landai di masa depan.
Berdasarkan catatan historis, sektor minerba memiliki performa yang cukup solid; pada tahun 2025, realisasi PNBP minerba berhasil mencapai Rp138,37 triliun, melampaui target APBN yang sebesar Rp127,44 triliun, meski secara keseluruhan PNBP sektor ESDM sedikit berada di bawah target total.
Tantangan utama pada tahun 2026 terletak pada rencana pemangkasan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton.
Angka ini merosot signifikan hampir 200 juta ton jika dibandingkan dengan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Melalui kombinasi kebijakan efisiensi dan pengawasan ketat, pemerintah berharap sektor minerba tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara di tengah transisi kebijakan produksi nasional.( ar/aw)














