
Sebuah sore hari waktu Indonesia bagian tengah terdengar runtutan narasi yang dipenuhi dengan riuh suara gelak tawa anak-anak dan para remaja itu ternyata bersumber dari sekelompok pemuda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah mendongeng.
Suasana sederhana namun mampu mejadi sebuah titik awal dalam perjuangan dalam memberikan edukasi dan pemahaman tentang sebuah hal yang masih dilindungi oleh kokohnya tembok tabu.
“Dengan cara seperti ini kami merangkul anak remaja untuk memahami tubuhnya sendiri,” ujar Mariana Yunita Hendriyani Opat, Pengedukasi Hak Kesehatan Seksual Anak, yang sekaligus juga pendiri Tenggara Youth Community.
kegiatan itu bernama Bacarita Kespro yang merupakan cetusan dari Mariana atau yang akrab disapa dengan Tata bersama dengan rekannya mendirikan Tenggara Youth Community.
Kegiatan itu berisi edukasi yang disampaikan dengan metode pembelajaran inovatif seperti mendongeng, permainan edukasi, dan penggunaan alat peraga.












