Cakrawala SurabayaDPRD JatimDPRD SurabayaHeadline

Komisi B DPRD Surabaya Wanti-Wanti Modernisasi 16 Pasar Tradisional: Jangan Cuma Cantik Fisik!

×

Komisi B DPRD Surabaya Wanti-Wanti Modernisasi 16 Pasar Tradisional: Jangan Cuma Cantik Fisik!

Sebarkan artikel ini
Anggota-Komisi-B-Enny-Minarsih
Anggota-Komisi-B-Enny-Minarsih
Surabaya, CakrawalaNews.co | Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang tengah memacu modernisasi dan revitalisasi 16 pasar tradisional mendapat dukungan sekaligus catatan kritis dari pihak legislatif. 
 
Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kota Surabaya, Enny Minarsih, menilai langkah ini sangat strategis untuk membentengi ekonomi arus bawah.
 
“Modernisasi 16 pasar tradisional di Surabaya itu langkah yang sangat tepat karena pasar tradisional kita adalah urat nadi ekonomi UMKM,” ujar Enny Minarsih saat dihubungi Cakrawala pada Kamis (16/7/2026).
 
Menurut Enny, pasar tradisional terbukti menjadi penyangga kokohnya pertumbuhan ekonomi Kota Pahlawan yang berhasil menembus angka 5,24% pada Triwulan II 2025 lalu.
 
 Namun, ia mengingatkan agar proyek besar ini tidak terjebak pada perbaikan kosmetik semata.
 
“Pasar tradisional terbukti menjadi penyangga pertumbuhan ekonomi kita yang tembus 5,24%, namun kuncinya bukan cuma fisiknya bagus atau bangunannya dibuat cantik, melainkan bagaimana bikin pedagang dan pembeli betah balik lagi ke pasar,” tegas politisi perempuan tersebut.
 
Saat ini, Pemkot Surabaya melalui PD Pasar Surya bersama Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkopumdag) memang sedang mengebut proyek revitalisasi secara masif. 
 
Sejumlah pasar seperti Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Babakan Baru, Wonokromo, hingga Simo Gunung masuk dalam target prioritas tuntas, sedangkan Pasar Keputran Selatan disiapkan khusus menjadi sentra pemotongan ayam yang higienis.
 
“Kami mengapresiasi upaya pembenahan fisik mulai dari perbaikan lantai, atap, IPAL, hingga target digitalisasi pembayaran digital seperti di Pasar Kapasan yang menggunakan QRIS agar transaksi bisa dimonitor secara real-time,” urai Politisi PKS ini.
 
Meski menyambut positif potensi pasar tradisional untuk bersaing dengan ritel modern, Enny Minarsih mengingatkan Pemkot Surabaya untuk jeli melihat kekhawatiran yang dirasakan para pedagang di lapangan.
 
 Berkaca dari dinamika revitalisasi di Pasar Keputran, Turi, dan Blauran terdahulu, pola komunikasi dan skema relokasi kerap memicu hambatan hingga pedagang kembali turun ke jalan.
 
“Belajar dari kasus masa lalu, komunikasi pemkot, investor, dan pedagang harus jalan agar pedagang tidak kembali ke jalan karena takut kehilangan pelanggan atau tidak mampu membeli stan baru,” kata Enny.
 
Enny juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dari pemerintah daerah dalam mengelola pasar tradisional. Ia berharap pemda tidak hanya memposisikan pasar sebagai sumber retribusi semata tanpa menyentuh aspek pembinaan.
 
“Jangan sampai ada kesan pemda hanya berorientasi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah) retribusi tanpa mendorong manajemen tata kelola, dan di sisi lain kesadaran pedagang untuk memenuhi kewajiban juga harus terus dipupuk,” jelasnya.
 
Agar proyek modernisasi ini berkelanjutan dan tidak layu sebelum berkembang, Komisi B DPRD Surabaya menekankan pentingnya pengawasan berlapis, mulai dari komitmen kebersihan lingkungan hingga manajemen digital pasca-revitalisasi.
 
“Pengawasan fisik dan kebersihan harus berkelanjutan lewat SOP yang ketat dan dikawal petugas khusus secara rutin, didukung pengawasan manajemen lewat sistem e-Collection digital demi transparansi retribusi,” tuturnya.
 
Terakhir, ia meminta adanya keterlibatan aktif dari paguyuban pedagang untuk mengontrol ekosistem pasar, serta ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan zonasi agar tidak kalah saing dengan gempuran ritel modern.
 
“Pedagang harus dilibatkan langsung dalam forum paguyuban untuk mengawasi harga stan, dan pemda wajib menegakkan zonasi usaha agar keberadaan ritel modern tidak menggencet pasar tradisional kita,” tambahnya.
 
Sebagai penutup, Enny menegaskan bahwa keberhasilan modernisasi ini bertumpu pada tiga pilar yang berjalan beriringan: bangunan yang nyaman, sistem pengelolaan yang transparan, dan keterlibatan aktif para pedagang.
 
“Menurut saya, pengawasan paling efektif adalah kombinasi antara dashboard digital dari PD Pasar Surya, tim kebersihan yang konsisten, dan perwakilan pedagang yang ikut melakukan audit bersama setiap bulan agar pasar yang sudah bagus tidak kembali kumuh,” pungkasny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *