Cakrawala InsightCakrawala SurabayaHeadline

Film “Na Willa” Angkat Potret Kehidupan Multikultural Surabaya Era 1960-an

×

Film “Na Willa” Angkat Potret Kehidupan Multikultural Surabaya Era 1960-an

Sebarkan artikel ini
film na willa angkat potret kehidupan multikultural surabaya era 1960 an
film na willa angkat potret kehidupan multikultural surabaya era 1960 an

Surabaya – Cakrawalanews.co | Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, bersama sejumlah Kepala Perangkat Daerah (PD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar nonton bareng (nobar) film Na Willa di Tunjungan Plaza, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini juga dihadiri tokoh-tokoh serta warga yang kisahnya diangkat dalam film tersebut.

Kegiatan nobar ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya dalam mendekatkan karya seni lokal kepada masyarakat sekaligus mengangkat nilai-nilai sosial yang relevan dengan kehidupan warga Kota Pahlawan.

Film keluarga yang disutradarai Ryan Andriandhy tersebut mengangkat kisah kehidupan sehari-hari seorang anak perempuan bernama Na Willa alias Luisa Adreena, gadis berusia enam tahun yang tinggal di kawasan Krembangan, Surabaya, pada dekade 1960-an.

Melalui sudut pandang anak-anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu, film ini menggambarkan dinamika keluarga multikultural serta kehidupan sosial masyarakat Surabaya pada masa itu. Na Willa diceritakan memiliki latar belakang keluarga beragam, dengan ibu berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan ayah keturunan Tionghoa.

Tidak hanya menampilkan kisah keluarga, film ini juga merekam interaksi sosial di lingkungan sekitar, mulai dari hubungan antarwarga hingga pengalaman masa kecil yang sederhana namun sarat makna. Cerita yang diangkat menyoroti nilai pertumbuhan, keberagaman, serta perubahan zaman yang terjadi di Surabaya.

Wali Kota Eri Cahyadi menilai, film Na Willa merepresentasikan kehidupan masyarakat Surabaya yang sesungguhnya, terutama dalam hal kebersamaan dan toleransi tanpa memandang perbedaan suku maupun agama.

“Mereka tetap berteman, dan berteman di zaman dulu itu tidak ada yang saling menjatuhkan tapi saling menjaga, orang tuanya juga saling guyub. Kan kita dicontohkan, agar kita tidak boleh berbohong dan cara mengajarkan anak dengan cara yang luar biasa,” ujar Eri.

Menurutnya, nilai-nilai yang ditampilkan dalam film tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana masyarakat diharapkan tetap menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Ia menambahkan, film seperti Na Willa dapat menjadi media edukasi sosial yang efektif, terutama dalam membangun karakter generasi muda agar lebih menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi kebersamaan.

Melalui kegiatan nobar ini, Pemkot Surabaya juga ingin mendorong tumbuhnya apresiasi terhadap karya seni lokal yang mengangkat identitas kota, sekaligus memperkuat pesan kebudayaan kepada masyarakat.

Eri berharap, pesan yang disampaikan dalam film tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga Surabaya, terutama dalam memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan.

“Semoga, Surabaya dari Krembangan menuju Surabaya yang berkah, sejahtera, dan bisa menjalankan Kampung Pancasila. Semoga juga bisa sejahtera, dan damai seperti kampungnya Na Willa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *