Cakrawalanews.co – Menindaklanjuti arahan pimpinan daerah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Mawardi, turun langsung ke lapangan. Kunjungan ini bertujuan memastikan percepatan pemasangan jembatan sementara (Bailey) di jalur lintas timur dan pembukaan akses darat pascabencana hidrometeorologi.
Pada Rabu pagi (10/12), Mawardi memantau pemasangan Jembatan Bailey di kawasan Awe Geutah, Bireuen, yang dikerjakan oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN). Fokus pengawasan adalah memastikan progres pekerjaan sesuai target dan mengatasi hambatan teknis.
Mawardi berkoordinasi dengan Kepala Pekerja Erection Jembatan, Somat, yang melaporkan adanya kekurangan komponen. Kekurangan ini menyebabkan mundurnya target awal pengoperasian jembatan untuk pejalan kaki dan pengendara roda dua sekitar 1-2 hari.
“Masih ada beberapa komponen yang kurang. Kami sudah minta tim teknis melakukan pemilahan dan mengirimkan komponen cadangan jembatan Bailey yang tersimpan pascatsunami,” ujar Mawardi.
Untuk mempercepat penyelesaian, tambahan komponen Bailey dari Dinas PUPR Aceh telah dikirim dan mulai dipasang di Awe Geutah hari ini (11/12).
Akses Bener Meriah Mulai Terbuka
Perkembangan signifikan juga terjadi pada pembukaan akses dari Simpang KKA menuju Kabupaten Bener Meriah. Sesuai arahan Sekretaris Daerah Aceh, Kadis PUPR Aceh telah membentuk tim teknis setingkat kepala bidang guna memperkuat tim di lapangan dan mempercepat pembangunan jalan darurat.
Salah satu tim yang dipimpin oleh Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR Aceh, Hasrizal Kurnia, berhasil menembus jalur ekstrem menuju Bener Meriah. Tim ini meneruskan upaya yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim teknis PUPR Aceh di jalur Batas Aceh Utara–Bandara Rembele.
Akses ini kini mulai terbuka, meskipun masih bersifat darurat. Tim teknis harus berjalan kaki sejauh 12 kilometer, melewati sungai dan lokasi longsor, untuk mencapai kawasan Bandara Rembele.
Hasil kajian teknis merekomendasikan pembangunan jalan darurat menggunakan material berbatu agar tahan terhadap aliran air. PUPR Aceh telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Bener Meriah untuk dukungan penyediaan material batu dan truk dari partisipasi masyarakat.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan BBM untuk pengoperasian alat berat.
“Kami sudah melaporkan kondisi ini kepada Gubernur, Wagub, dan Sekda Aceh serta berharap dukungan pasokan BBM segera dipastikan agar jalan ini bisa dilalui kendaraan roda empat,” tambah Mawardi.
Dinas PUPR Aceh menargetkan percepatan penyempurnaan akses jalan dan jembatan ini dapat terus ditingkatkan dengan dukungan lintas sektor, termasuk TNI, pemerintah kabupaten, dan BUMN, demi memulihkan konektivitas dan aktivitas masyarakat terdampak. ( wa/ar)












