“Keutuhan dan kekuatan bangsa ditentukan oleh keluarga yang utuh dan peran ayah yang hadir. Jika ayah tidak dirasakan, baik secara fisik maupun emosional, maka ketahanan keluarga dan bangsa ikut terancam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Puguh menjelaskan bahwa fatherless tidak hanya terjadi karena ketiadaan fisik ayah, tetapi juga karena jarak emosional antara ayah dan anak. Banyak ayah yang secara fisik hadir di rumah, namun tidak terlibat dalam pengasuhan maupun kedekatan emosional dengan anak-anaknya.
“Fenomena ini sangat berpengaruh pada perkembangan karakter anak. Banyak penelitian menyebut anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung lebih agresif, mudah depresi, dan berisiko mengalami masalah sosial seperti kenakalan remaja hingga penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Puguh menekankan bahwa dalam menyongsong era Indonesia Emas 2045, kesiapan generasi muda menjadi faktor utama keberhasilan bangsa. Karena itu, memperkuat peran ayah dalam keluarga menjadi investasi penting dalam pembangunan karakter bangsa.












