“Ini tempat esek-esek, beroperasi gelap-gelapan di samping taman baca dan rumah padat karya? Apa kita mau anak-anak kita yang seharusnya belajar dan berkarya melihat praktik maksiat ini setiap hari? Ini tamparan keras untuk moral kota,” sergahnya penuh emosi.
Imam mengaku sudah sejak lama mendesak Pemkot Surabaya untuk menutup permanen lokalisasi Moroseneng.












