Kelompok tani konvensional diarahkan menanam di lahan sawah, sementara kelompok urban farming memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah.
“Kelompok tani, baik konvensional maupun urban farming juga sudah mulai melakukan pembibitan dan penanaman secara mandiri sejak beberapa hari sebelumnya. Dengan demikian, kami berharap, tiga bulan ke depan, pada Desember sudah bisa dilakukan panen,” terangnya.
Antiek menegaskan, program ini menjadi upaya antisipasi agar lonjakan harga cabai dan bawang yang biasanya terjadi saat Nataru bisa ditekan.
“Sehingga di bulan Desember ketika Natal dan Tahun Baru tidak terjadi kenaikan yang signifikan terkait dengan harga cabai di pasaran di Surabaya. Ini merupakan salah satu strategi TPID untuk mengendalikan inflasi, selain upaya menjaga pasokan dari daerah asal. Dengan memberdayakan masyarakat dan kelompok tani, kebutuhan rumah tangga skala kecil bisa terpenuhi dari hasil panen sendiri, mengurangi tekanan pada pasar,” pungkasnya












