Menurut Achmad, dua minggu menjelang 17 Agustus merupakan masa intensif kerja bakti warga. Lonjakan aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan penumpukan sampah jika tidak diantisipasi secara tepat.
Ia menilai, DLH perlu meningkatkan intensitas volume pengangkutan sampah dari lokasi-lokasi kerja bakti serta menyiapkan skema mitigasi di lapangan.
“DLH harus lebih adaptif menghadapi dinamika kerja bakti warga. Dua pekan ini bisa disebut puncak Surabaya Bergerak karena hampir seluruh kampung aktif. Maka butuh langkah preventif, termasuk peningkatan volume pengangkutan dan kesiapan TPS sementara,” ujar Achmad, Kamis (31/7/2025).
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak mencampur sampah kerja bakti dengan barang bekas rumah tangga seperti kasur, lemari, atau kursi rusak.












