Menurut Yordan, Kudatuli bukan sekadar bagian dari masa lalu. Peristiwa itu merupakan simbol perlawanan rakyat terhadap kekuasaan otoriter, dan menjadi bahan bakar bagi perjuangan PDIP hingga kini.
“Partai ini tidak lahir hanya dengan doa dan niat baik, tetapi juga dengan darah dan air mata. Itulah yang membedakan PDI Perjuangan dari partai lain,” lanjutnya disambut tepuk tangan peserta.
Kegiatan ini turut melibatkan berbagai elemen pendukung partai, seperti Komunitas Juang Merah Total (KJMT), divisi becak, dan Pro-Mega (ProMeg), yang disebut Yordan sebagai garda ideologis partai sejak awal berdiri.
“Teman-teman dari Promeg, kalianlah yang menjaga nyala semangat ini tetap hidup. Tanpa kalian, kita tak akan berada di sini,” ujarnya memberi apresiasi.
Tak berhenti di refleksi, Yordan juga menyinggung tantangan kebangsaan masa kini. Ia menyebutkan bahwa Indonesia pernah unggul dari Singapura, namun kini tertinggal, dan itu menjadi alarm bagi kader partai untuk tak larut dalam zona nyaman.
“Kita punya Bung Karno, Pancasila, sumber daya alam melimpah, tapi kenapa rakyat kita masih sengsara? Inilah panggilan tugas kita sebagai kader partai,” cetusnya.





