Scrol ke Bawah
Example 120x600
Example 120x600
Humaniora

Bergerak dari Hulu, Surabaya Gaspol Eliminasi Stunting

×

Bergerak dari Hulu, Surabaya Gaspol Eliminasi Stunting

Sebarkan artikel ini
Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani,
Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani,

CakrawalaNews.co Program eliminasi stunting secara masif kembali di Gaspol oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya.

Lewat Gebyar Lomba Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) – Eliminasi Stunting Jilid IV, Pemkot menyasar langsung titik awal persoalan: baduta (bayi di bawah dua tahun) yang berisiko mengalami stunting.

Sponsor

Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menjelaskan bahwa program BWSE Jilid IV resmi dimulai sejak 30 Juni 2025, diawali dengan sosialisasi kepada seluruh Ketua TP PKK Kecamatan dan Kelurahan. Langkah awal ini dirancang untuk menggerakkan seluruh lapisan pendamping di wilayah masing-masing agar aktif mendeteksi dan mendampingi keluarga sasaran.

“Berbeda dengan edisi sebelumnya yang menyasar anak stunting dan pra-stunting, BWSE Jilid IV kali ini mengambil langkah proaktif dengan menargetkan 607 baduta (bayi di bawah dua tahun) yang menunjukkan indikasi T2, yaitu tidak mengalami kenaikan berat badan dua kali berturut-turut,” kata Bunda Rini sapaan lekatnya, di Kantor PKK Surabaya, Sabtu (5/7/2025).

Sasaran tersebut meliputi 150 bayi usia 0–6 bulan, 153 baduta usia 7–11 bulan, dan 304 baduta usia 12–24 bulan. Data ini dikumpulkan dan dikonfirmasi secara menyeluruh oleh Dinas Kesehatan (Dinkes), Ketua TP PKK Kelurahan, dan puskesmas setempat.

“Kami menyentuh dari hulu. Ketika anak-anak sudah dua kali tidak mengalami kenaikan berat badan saat ditimbang, hal tersebut perlu diwaspadai. Jangan sampai kondisi ini berlanjut menjadi stunting,” jelasnya.

Program BWSE Jilid IV akan berjalan selama dua bulan, sejak 5 Juli hingga 30 Agustus 2025. Dalam periode ini, seluruh baduta sasaran akan menerima intervensi gizi dan kesehatan terpadu, mulai dari pemeriksaan tumbuh kembang oleh dokter spesialis anak, hingga bantuan gizi tambahan berupa ikan dari DKPP, susu dari Dinkes untuk usia 7–24 bulan, serta telur harian dari PDAM Surya Sembada. Untuk anak yang alergi telur, tersedia pengganti berupa ikan atau daging.

“Juga ada pelatihan pemahaman laktasi dan MPASI kepada para orang tua pada tanggal 19 dan 28 Juli, serta 2 Agustus 2025, yang akan dibimbing langsung oleh konselor laktasi dari dokter spesialis anak,” terangnya.

Program ini tak hanya menyasar pemenuhan gizi, tetapi juga memperkuat edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh, kebersihan lingkungan, dan teknik pemberian makan yang benar.

“Kami lebih fokus pada bagaimana pola asuh anak ini, mendidik anak,” kata dia.

Penilaian lomba dilakukan secara profesional oleh juri dari kalangan akademik dan organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), FKM Unair, HIMPSI, Poltekkes Kemenkes, serta TP PKK Kota Surabaya. Indikator penilaian meliputi kesesuaian tumbuh kembang anak dengan KMS, kondisi rumah sehat, kreativitas orang tua dalam menyajikan makanan, serta kualitas pendampingan oleh TPK.

Salah satu inovasi BWSE Jilid IV adalah hadirnya penilaian terhadap “Kampung ASI” di tingkat kelurahan. Penilaian ini mencakup capaian ASI eksklusif, keaktifan pelaporan pendampingan, dan sinergi lintas sektor di kampung tersebut.

“Dua bulan ini cukup signifikan, saya rasa butuh upaya keras. Saya berharap para orang tua bisa konsisten, artinya selama dua bulan ini mereka sudah terbiasa dengan pola hidup seperti ini. Jangan sampai grafik pertumbuhan yang sudah naik, malah turun lagi,” pesannya.

Sementara itu, Dr. dr. Mira Ermawati, Sp.A(K), dari IDAI Jawa Timur, menilai kolaborasi ini mencerminkan komitmen Surabaya dalam memperkuat pencegahan dini stunting secara berkelanjutan.

“IDAI memfokuskan pendekatan pada pencegahan dini, terutama menargetkan kelompok usia 0 hingga 6 bulan, termasuk bayi prematur. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati,” jelas dr. Mira.

Ia menegaskan bahwa periode emas tumbuh kembang sangat ditentukan oleh keberhasilan menyusui dan pemberian protein hewani. Lemahnya perlekatan ASI dan minimnya edukasi sering menjadi akar kasus stunting.

“Sebagai bentuk nyata kolaborasi, IDAI Cabang Jawa Timur meluncurkan program unggulan 1 Puskesmas 1 Pediatrician (1P1P). Program ini memastikan setiap Puskesmas di Surabaya kini memiliki dokter spesialis anak, memudahkan masyarakat untuk berkonsultasi,” imbuhnya.

IDAI juga akan menyelenggarakan penyuluhan di 63 puskesmas selama dua bulan program berlangsung. Edukasi akan difokuskan pada pentingnya ASI, tumbuh kembang, dan makanan bergizi seimbang, disertai evaluasi dan kunjungan rumah oleh dokter anak.

“Kami berharap dapat memberikan sumbangsih maksimal bagi seluruh masyarakat Surabaya,” pungkasnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 300x600