Dalam konteks restorasi, Lita menegaskan bahwa semangat perubahan harus ditunjukkan dalam aksi nyata, bukan sekadar jargon.
“Restorasi bukan slogan. Ia adalah keberanian. Berani berubah, berani berbenah, dan berani mengakui kekurangan. Pemimpin NasDem harus bisa mendengar, merangkul, dan hadir di titik-titik kehidupan rakyat yang jarang tersentuh elit,” tandasnya.
DPW NasDem Jatim, menurut Lita, telah melakukan banyak hal konkret. Mulai dari distribusi Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), pengadaan ambulans, hingga bantuan pangan yang menjangkau seluruh wilayah Jawa Timur.
“Saya tidak hanya membagikan PIP dan KIP di dapil saya (Surabaya-Sidoarjo). Saya distribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Karena rakyat tidak peduli dari mana kita berasal. Mereka hanya peduli siapa yang hadir saat mereka butuh,” ujarnya.
Lita pun berpesan kepada Saiful Ma’arif dan seluruh jajaran DPD-DPC Surabaya yang baru dilantik untuk membangun struktur partai yang hidup dan bergerak.
“Pelantikan ini bukan prosesi administratif. Ini adalah awal restorasi Surabaya. Bangun struktur yang hidup, bukan hanya nama di atas kertas. Rebut kembali kepercayaan rakyat, bukan hanya secara elektoral, tapi juga secara moral dan kultural. Partai NasDem harus jadi pelaku sejarah, bukan penonton,” pungkasnya.












