Indeks

Kabinet Surabaya Berkah dan “Jejak Risma”: Restu, Sinergi atau Strategi? Ini Kata Pakar

×

Kabinet Surabaya Berkah dan “Jejak Risma”: Restu, Sinergi atau Strategi? Ini Kata Pakar

Sebarkan artikel ini
Pertemuan Eri Cahyadi dan beberapa pejabat pemkot Surabaya dengan Tri Rismaharini Sekira Bulan April 2025. Foto: Istimewa
Pertemuan Eri Cahyadi dan beberapa pejabat pemkot Surabaya dengan Tri Rismaharini Sekira Bulan April 2025. Foto: Istimewa

Bagi sebagian kalangan, rangkaian momen ini terlalu sistematis untuk disebut sebagai kebetulan. Di sinilah narasi “jejak Risma” mulai terbaca: apakah ada bentuk restu politik dari sang Mentor? Ataukah ini bentuk konsolidasi kekuatan lama dan baru demi stabilitas serta kesinambungan kebijakan?

Pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, Dr. Suko Widodo, menyebut keputusan Eri memasukkan kembali tokoh-tokoh lama yang identik dengan Risma dalam struktur Pemkot sebagai langkah realistis dan berbasis evaluasi.

Suko menengarai Wali Kota Eri sedang merapikan barisan birokrasi. Ia melihat bahwa untuk menjawab tantangan Surabaya hari ini, dibutuhkan kombinasi antara pengalaman dan energi baru.

“ini sebuah langkah evaluasi dari periode pertamanya yang mengikuti dengan kebutuhan perkembangan masyarakat kota Surabaya saat ini. terutama tentang pelayanan publik dan lain sebagainya,” kata Suko ketika dihubungi cakrawalanews.co Selasa (03/06/2025).

Menurutnya, banyak dari pejabat era Risma telah teruji menghadapi dinamika birokrasi perkotaan, terutama dalam hal pelayanan publik dan disiplin kerja.

“Ini soal kemampuan menjabarkan visi kota. Ini langkah merevitalisasi kekuatan birokrasi dimana pak wali kota Eri ingin menggabungkan orang-orang lama dengan orang baru untuk bisa menjabarkan visi-misinya sebagai wali kota.” tegasnya.

Sudut pandang lain disampaikan pakar komunikasi politik dari univesitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Moch. Mubarok Muharam yang  menyoroti adanya motif politik jangka panjang dalam komposisi Kabinet Surabaya Berkah.

Ia menilai bahwa Eri Cahyadi bukan sekadar kepala daerah administratif, ia juga seorang aktor politik. Maka wajar kalau ia mulai membangun basis kekuatan untuk kontestasi berikutnya, termasuk 2029.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *