Proyek ini memerlukan dana besar untuk pembebasan lahan dan pembangunan fisik. Jika dikerjakan lebih awal, manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Irvan memastikan bahwa penggunaan pinjaman daerah ini tidak akan membebani keuangan Pemkot Surabaya di masa mendatang.
“Kami telah menghitung rasio utang dan memastikan cash flow selama lima tahun ke depan dapat menutupi pinjaman ini. Kami berharap bunga pinjaman berada dalam kisaran 4-6 persen, yang disesuaikan dengan kekuatan fiskal kota,” ujarnya.
Maka dari itu, Irvan menggarisbawahi bahwa bunga pinjaman diharapkan berada pada kisaran 4-6 persen. Perhitungan ini sebagaimana telah disesuaikan dengan kekuatan fiskal Pemkot Surabaya.
“Itu semua sudah ada penilaian, debt ratio-nya sudah diukur sekian maksimal. Misal pinjaman kita maksimal sekian, kita pasti di bawahnya. Jadi kemampuan Surabaya ini dianggap tinggi, karena PAD besar persentasenya terhadap semua total pendapatan asli daerah,” bebernya.
Selain itu, Irvan menyebutkan Pemerintah Kota juga telah menjalin komunikasi dengan Kementerian PPN/Bappenas, Kemendagri, dan Kemenko Perekonomian terkait rencana pembiayaan ini. Pemkot Surabaya berharap model pembiayaan ini dapat menjadi contoh bagi kota lain dan meringankan beban pemerintah pusat.












