Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur tersebut menilai, tantangan utama dalam pemeliharaan koleksi ini adalah keterbatasan mobilitas dan kerumitan membawa artefak yang cukup besar. Mengingat sebagian koleksi berupa benda kuno dan rentan, proses penataan ulang koleksi untuk menampilkan keseluruhan sejarah secara menyeluruh tidak selalu memungkinkan. Untuk itu, dibutuhkan tenaga ahli dalam bidang filologi serta teknik konservasi yang tepat guna.
“Kami menyarankan agar Museum Mpu Tantular menggandeng universitas atau pihak yang memiliki kompetensi digital agar dapat mengembangkan koleksi yang ada dalam bentuk digital,” ujarnya.
Karenanya, Politisi asal Malang Raya itu ia menekankan perlunya kerjasama yang erat antara Museum Mpu Tantular dan institusi pendidikan, terutama universitas yang memiliki fokus pada studi sejarah dan teknologi digital. Langkah kolaboratif ini diyakini akan mendorong terciptanya inovasi dalam pelestarian budaya sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pengembangan teknologi dan pelestarian sejarah.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dapat mendorong riset yang lebih mendalam mengenai artefak-artefak yang dimiliki museum,” katanya.












