“Jember ini adalah kota santri, tapi di pasar ini tidak ada fasilitas ibadah yang layak untuk para pedagang dan pembeli. Padahal, kebutuhan akan tempat ibadah di pasar sangat penting, terutama bagi para pedagang yang harus bekerja sepanjang hari,” terangnya.
“Sebagai kota dengan mayoritas penduduk muslim, kita harus memastikan bahwa ada fasilitas ibadah yang memadai di pasar-pasar tradisional. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal identitas Jember sebagai kota santri,” imbuhnya.
Selain masalah-masalah tersebut, Gus Fawait juga melihat potensi besar yang belum dimanfaatkan di Pasar Tanjung, yakni keberadaan tandon raksasa yang menjadi salah satu ikon sejarah di pasar tersebut. Tandon air raksasa ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Namun, hingga saat ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk menarik wisatawan.
“Pasar Tanjung ini memiliki daya tarik sejarah yang luar biasa, salah satunya adalah tandon raksasa ini. Sayangnya, potensi ini belum dimaksimalkan sebagai destinasi wisata,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa tandon raksasa tersebut bisa menjadi magnet bagi wisatawan jika dikelola dengan baik. “Dengan penataan yang tepat, Pasar Tanjung bisa menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah. Kita tidak hanya berbicara soal ekonomi, tapi juga tentang sejarah dan budaya yang bisa dijadikan daya tarik wisata,” pungkasnya. (Caa)



