Menurut Reni pihaknya akan terus mendorong agar dapat masuk dalam prioritas tindak lanjut Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
“Datanya sudah masuk ya, saat rapat banggar sudah saya sampaikan agar segera diperbaiki jangan nunggu roboh karena setelah kita lihat langsung tadi keadaannya memang sangat memprihatinkan, kalau hujan ibu dan balita penghuni rumah mesti mengungsi ke mushola,” terangnya.
Diketahui, dalam satu atap dihuni sebanyak enam orang, Bu Satuni dulunya penjual nasi jagung, kini usia semakin tua alhasil sudah tidak lagi berjualan. Sedangkan Iwan, terpisah KK, anak kandungnya sehari-harinya itu merupakan pekerja serabutan.
Sementara itu, Lurah Putat Jaya Bryan mengatakan bahwa pengajuan sudah masuk ke bagian Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya.



