Batasi penggunaan media sosial: Bantu remaja untuk mengatur waktu penggunaan media sosial dan memilih konten yang positif dan inspiratif.
Dorong interaksi nyata: Ajak remaja untuk menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga secara langsung, alih-alih terpaku pada media sosial.
Bantu mereka menemukan hobi dan minat: Dukung remaja untuk mengembangkan bakat dan minat mereka, sehingga mereka merasa lebih percaya diri dan memiliki tujuan hidup.
Ajarkan tentang body positivity: Bantu remaja untuk menerima dan mencintai diri mereka apa adanya, tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
Bangun komunikasi yang terbuka: Ciptakan komunikasi yang terbuka dan suportif dengan remaja, sehingga mereka merasa nyaman untuk berbagi perasaan dan kekhawatiran mereka.
Cari bantuan profesional: Jika FOMO sudah sangat memengaruhi kesehatan mental remaja, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau terapis.
FOMO adalah tantangan nyata bagi remaja di era digital. Orang tua, guru, dan konselor perlu bekerja sama untuk membantu remaja mengatasi FOMO dan membangun harga diri yang sehat. Dengan memberikan dukungan dan edukasi yang tepat, remaja dapat terhindar dari dampak negatif FOMO dan menjalani hidup yang bahagia dan penuh makna.(*)












