“Untuk prioritas penangan banjir dan genangan ini, kita melanjutkan pembangunan saluran diversi Gunungsari yang sekarang pada tahapan lelang, ini diharapkan bisa menyelesaikan persoalan. Minimal mengurangi problem banjir dan genangan di kawasan Surabaya Barat,” terangnya.
Pembangunan infrastruktur jalan juga menjadi prioritas Pemkot Surabaya, terdapat 519 ruas jalan yang akan diperbaiki. Meliputi 71 ruas jalan arteri sekunder, 53 ruas jalan kolektor sekunder, dan 395 ruas jalan lokal sekunder. Ada pula pengerjaan flexible pavement atau pengaspalan di 21 lokasi, rigid pavement sebanyak 1 lokasi, jembatan sebanyak 12 lokasi, pedestrian sebanyak 8 lokasi, paving sebanyak 26 lokasi, serta paving dan saluran sebanyak 121 lokasi.
“Proyek infrastruktur jalan lain yang tidak kalah penting adalah melanjutkan pembangunan radial road yang ditargetkan akan selesai pada Oktober 2024. Dari Jalan Yono Suwoyo menuju ke kawasan Citraland,” tutur dia.
Ia menambahkan, untuk arah Wiyung-Menganti, saat ini masih dalam proses lelang, dan proses pembebasan lahan. Dengan demikian, pembangunan jalan akan diteruskan dari arah Babatan Unesa menuju ke barat. “Kurang lebih dari total yang dibutuhkan 1,4 kilometer, tahun ini secara bertahap kita lakukan pembangunan jalan atau pelebaran itu 300 meter,” imbuhnya.
Tak hanya itu saja, pemkot juga tengah melakukan penataan di kawasan kota lama Surabaya. Di sana akan terbagi menjadi empat zona. Di antaranya, Zona Eropa, Zona Pecinan, Zona Melayu, dan Zona Arab. Penataan kawasan kota lama ini semakin menunjang pariwisata Heritage, yakni memperkuat identitas Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan, salah satunya dengan mengkoneksikan antar zona.
“Penataan kota, khususnya di bidang pariwisata mulai membangun, mengembalikan, dan revitalisasi di kawasan Surabaya Utara. Proses penataan itu saat ini telah mencapai 70 persen, dan ditargetkan selesai pada akhir Mei 2024 untuk segera diresmikan,” terang dia.
Dengan semakin masifnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya, tentunya hal ini turut menyeimbangkan upaya integrasi teknologi dan komunikasi dalam tata kelola kota. Sebab, saat ini, pemkot juga tengah mengembangkan sistem open data atau menyediakan data yang dapat diakses oleh masyarakat guna memperkuat Surabaya sebagai smart city.
“Dalam rangka single sign on, bagaimana tata kelola teknologi komunikasi informasi ini, masyarakat bisa lebih mudah mengakses data melalui sistem single sign on untuk publik maupun untuk internal. Kita juga menggunakan satu peta berbasis geospasial untuk menunjang itu semua. Insyaallah dengan berbagai pembangunan infrastruktur ini, Surabaya akan lebih baik lagi ke depannya,” pungkasnya. (adv)












