Sementara itu Gus Miftah, Wakil Sekretaris PCNU Surabaya ini dengan gamblang mengatakan tradisi warga Nahdliyin adalah nderek kiai.
Jika kiai mendukung ke Paslon 02, maka otomatis warga NU akan mengikuti. “Tradisi NU itu tawadhu kepada kiai panutannya,” ujarnya.
Namun secara organisasi, struktural pengurus NU tidak boleh terlibat di politik praktis.
“Uniknya di NU, para tokoh itu seolah terpaksa terlibat secara pribadi dalam dukungan. Karena pasti tokoh NU itu dituakan atau jadi panutan di wilayah masing-masing,” ujar Gus Miftah.
“Otomatis terlibat di model Pemilu langsung ini yang one man one vote. Itulah sebabnya warga NU pasti masih tanya ke tokoh tadi, harus ke mana, setelah itu mereka mengikuti panutannya tadi,” imbuhnya.
Hanya saja memang di NU melarang secara organisasi, terlibat di politik praktis. Jika pribadinya, diperbolehkan. Seperti Gus Ipul, yang karena menjabat Sekjen PBNU hanya diizinkan secara pribadi, lalu diikuti massa pendukungnya. Termasuk Khofifah, yang masuk TKN, sehingga PBNU menonaktifkannya.
Menuju akhir sesi, moderator Sima, membacakan hasil survei dari lembaga
Poltracking, yang menyebut warga NU sebanyak 48,8 persen mendukung Paslon 02, sedangkan lembaga SMRC, menyebut angka 50,7 persen warga NU ke Paslon 02.
Sementara itu, pengamat politik dari Departemen Politik Universitas Airlangga, Fahrul Muzakki, membeber bahwa jika pengikut NU di Indonesia telah mencapai 59,5 persen dari asumsi 270 juta total jumlah penduduk Indonesia maka warga NU saja berkisar 159 juta.
Di Jawa Timur, dengan komposisi 40 juta penduduk, dengan hak pilih 31 juta, dan dalam survei sekitar 42 persen warga NU di barisan Prabowo, artinya bisa tembus 13 juta pemilih NU ke Prabowo. Paslon lain tentu di bawahnya.
Fahrul, melihat di momentum elektoral ini ada hubungan mutualisme Prabowo-Gibran dengan NU dan Muhammadiyah.












