Jika sudah memiliki inovasi timpa Anas, destinasi wisata Surabaya akan memiliki daya saing dengan wisata didaerah lain sehingga mampu meberikan kontribusi terhadap PAD.
“Kurang maksimalnya sektor ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah belum idealnya kondisi lapangan sebagai sustainable development dan memiliki daya saing yang tinggi,” tuturnya.
Anas mencontohkan, di KBS ada Surabaya night zoo yang juga masih butuh pengembangan, kemudian Kawasan THP (Taman Hiburan Pantai) Kenjeran, Romokalisari land, Kebun Raya Mangrove dan musium 10 November, musium pendidikan, dan musium olahraga di komplek gelora Pancasila.
“Tentunya, optimalisasi PAD disektor wisata ini juga membutuhkan peran serta masyarakat dengan memilih wisata-wisata di dalam kot a sendiri,” pungkas Anas.(hadi)



