Dijelaskan wakil ketua Komisi III DPR, keris sebenarnya bukan hanya bermakna senjata atau tosan aji. Namun keris juga memiliki sarat dengan seni ketrampilan tingkat tinggi pada aspek aspek estetik dhapur, pamor, hiasan kinatah dan bentuk fisiknya.
“Bahkan melalui keris, kita bisa mengetahui perjalanan bangsa ini dari waktu ke waktu. Keris itu ada yang dibuat pada masa kerajaan Mataram kuno, Sriwijaya, Singosari, Pajajaran, Majapahit, Mataram Yogjakarta maupun Surakarta, Madura sampai masa Kamardikan atau paska kemerdekaan,” beber Sarmuji.
“Makanya besok juga ada sarasehan bedah keris menghadirkan narasumber Mpu Zainal Fanani dan akademisi dari Untag Surabaya. Tujuannya untuk mengedukasi generasi muda supaya keris tak distigmakan mistis belaka. Sebab pamor keris itu identik dengan harapan dan doa bagi yang memegangnya,” terang Sarmuji.



