“Seperti kata Bung Karno, ayo kita warisi apinya, jangan abunya. Kita harus warisi api perjuangan Bung Karno untuk meneruskan kebaikan, untuk terus menghadirkan kerja kerakyatan yang konsisten dan tulus yang bisa membantu seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Ganjar.
Bung Karno lahir di Surabaya, pada 6 Juni 1901, di sebuah rumah di Kampung Pandean Gang IV, di Kelurahan Peneleh, ketika fajar menyingsing—yang membuat Bung Karno dijuluki “Putera Sang Fajar”. Bung Karno lahir dari pasangan Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.
Ganjar memasuki rumah kelahiran Bung Karno dengan mengucapkan kalimat basmalah. Kaki kanannya mengayun kali pertama melewati pintu rumah yang berwarna cokelat.



