“Dalam desain Kintir-kintir ini juga ada garis lengkungan dan garis yang bergerigi untuk mewakili aliran sungai dan alam mangrove dengan akar-akarnya yang tampak tajam. Ada pula ornamen Suro dan Boyo dalam bentuk stilasi yang melambangkan arek-arek Suroboyo. Saya juga cantumkan semanggi yang melambangkan cinta dan harmoni, serta ada ornamen garis-garis bambu sebagai lambang perjuangan dan loyalitas. Jadi, semuanya ada maknanya dan itu menggambarkan kota kita tercinta, Surabaya,” paparnya.
Pengerajin batik asli arek Suroboyo ini mengatakan dirinya juga sudah meng-ikhlaskan karya batiknya dipatenkan oleh pemerintah kota Surabaya. Ia mengaku bahwa ini merupakan sebuah dedikasinya kepada kota yang ia cintai.
“ saya memang sudah ikhlaskan karya saya dipatenkan oleh Pemkot Surabaya, semoga ini menjadi inspirasi bagi pengerajin batik lainnya,” ungkapnya.












