Lebih lanjut dikatakan Ronaldy, peran pemerintah melalui KONI, Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), dan perangkat daerah baik provinsi maupun di kabupaten/kota sangat membantu cabor loncat indah hingga berprestasi bisa seperti saat ini.
“Dengan berbekal materi atlet yang unggul, kami siapkan secara berlapis proses keberlanjutan prestasi kami kedepan. Hal ini terbukti raihan medali dari PON ke PON. Capaian ini juga tidak lepas dari peran para pelatih dan para pendukung non teknis yang selalu berdedikasi untuk kemajuan Cabor Loncat Indah,” ucapnya.
Dikatakanya, pembinaan atlet muda bertalenta dilakukan dengan cermat, agar bibit-bibit atlet tersebut menjadi penerus tongkat estafet para seniornya dan bisa terus menjaga tradisi juara. Salah satu atlet muda Jatim yang paling bersinar saat ini adalah Gladies Lariesa, ia menjelma menjadi atlet elit nasional dan beberapa kali mengikuti kejuaraan internasional. Terakhir Gladies mengikuti FINA World Championship 2022 di Budapest, Hungaria, dan menjadi atlet termuda saat itu di usia 16 tahun.
Prestasi Gladies sebelumnya di PON Papua yakni mampu menyabet tiga medali emas nomer individu dan menjadi atlet loncat indah putri terbaik. “Gladies mampu mengalahkan lawan-lawan yang lebih senior, yang usianya jauh di atasnya dan pengalaman mereka tentunya juga jauh lebih banyak. Prestasi ini memberikan gambaran jelas bahwa proses pembinaan berjenjang dan berkelanjutan terbukti nyata hasilnya, bila dilakukan dengan konsep dan strategi jitu,” tuturnya.
Menurut Ronaldy, lahirnya atlet nasional sekaliber Gladies ini bisa dijadikan role model untuk penyiapan atlet-atlet pelapis. Proses dimulai dari talent scouting, basic training hingga mencapai kondisi puncak menjadi atlet elit Indonesia. Dedikasi dan kerja keras semua pihak menjadi modal awal untuk melahirkan Gladies-Gladies yang lain, sehingga proses keberlanjutan prestasi bisa konsisten hingga target Indonesia Emas di 2044 bisa tercapai.



