“Dari setiap kelompok itu dapat bantuan modal Rp15 juta. Jadi masing-masing orang mendapat sekitar Rp2,5 juta. Sedangkan jumlahnya ada 12 orang dari dua kelompok yang ada di Kecamatan Tambaksari,” ujarnya.
Adi juga menerangkan, bahwa modal yang berasal dari BPR Surya Artha Utama ini digunakan oleh kelompok padat karya untuk membeli bahan pembuatan paving. Lalu, untuk alat disediakan oleh Pemkot Surabaya hasil Corporate Social Responsibility (CSR). Sementara untuk tempat produksinya, mereka menggunakan lahan aset milik Pemkot Surabaya.
“Jadi untuk permodalan kita hubungan dengan teman-teman dari BPR Surya Artha Utama. Sedangkan terkait alatnya kita sinergi dengan stakeholder minta CSR dan sudah ada 2 bantuan alat yang diberikan,” jelasnya.
Sejak mulai berjalan pada bulan Juli 2022, produksi paving mereka telah menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan per bulan September 2022, omzet salah satu kelompok padat karya paving di Tambaksari, per orangnya tembus Rp6-7 juta.
“Kelompok (padat karya paving) yang ada di Tambaksari Ketuanya Pak Anas ini per September dia setiap orang mendapatkan penghasilan Rp6-7 juta per bulan,” ungkap Adi.
Saat di awal pelatihan, pihaknya telah menyampaikan kepada para peserta, bahwa omzet dari padat karya paving ini memang bisa melebihi besaran nilai UMK Surabaya. Tentunya hal ini juga tergantung dari kuantitas dan banyaknya produksi paving pada masing-masing kelompok.












